You are currently viewing Rupiah Masih Tertekan terhadap Dolar AS Hari Ini, 6 Februari 2026, Tersengat Laporan Moody’s

Rupiah Masih Tertekan terhadap Dolar AS Hari Ini, 6 Februari 2026, Tersengat Laporan Moody’s

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Kamis, 6 Februari 2026. Pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya sentimen negatif di pasar keuangan global, yang dipicu oleh rilis laporan terbaru dari Moody’s. Laporan tersebut memengaruhi persepsi risiko investor terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh penguatan dolar AS secara global, seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar dalam menyikapi prospek ekonomi dunia yang masih penuh ketidakpastian.

Sentimen Global Membayangi Pergerakan Rupiah

Pasar keuangan global saat ini tengah bersikap lebih defensif setelah Moody’s merilis laporan yang menyoroti potensi perlambatan ekonomi global dan meningkatnya risiko kredit di sejumlah negara berkembang. Laporan ini mendorong investor untuk kembali memburu aset-aset aman (safe haven), seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS.

Akibatnya, arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk pasar keuangan Indonesia. Kondisi tersebut memberi tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah, meskipun fundamental ekonomi domestik dinilai masih relatif terjaga.

Selain itu, ekspektasi bahwa suku bunga global akan bertahan tinggi lebih lama turut memperkuat posisi dolar AS. Investor menilai kebijakan moneter ketat di negara maju masih diperlukan untuk meredam inflasi, sehingga ruang penguatan mata uang negara berkembang menjadi terbatas.

Dampak Laporan Moody’s terhadap Pasar Domestik

Laporan Moody’s tidak hanya berdampak pada nilai tukar, tetapi juga memengaruhi pergerakan pasar saham dan obligasi domestik. Pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see sambil menunggu kejelasan arah kebijakan global dan respons pemerintah Indonesia terhadap dinamika eksternal tersebut.

Meski demikian, analis menilai tekanan terhadap Tuna55 lebih bersifat sentimen jangka pendek. Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan ekonomi yang cukup baik, didukung oleh konsumsi domestik yang stabil dan kinerja ekspor komoditas yang relatif solid.

Di sisi lain, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat ketergantungan pasar keuangan domestik terhadap aliran modal asing masih cukup tinggi. Perubahan sentimen global secara cepat dapat memicu volatilitas nilai tukar dalam waktu singkat.

Peran Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Rupiah

Dalam menghadapi tekanan eksternal, Bank Indonesia diperkirakan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan. Intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan likuiditas, serta kebijakan suku bunga yang pruden menjadi langkah utama untuk meredam gejolak.

Bank Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan kepercayaan pasar. Koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga inflasi dan defisit transaksi berjalan dinilai menjadi faktor penting untuk menopang pergerakan rupiah ke depan.

Prospek Rupiah ke Depan

Ke depan, pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika global, terutama kebijakan moneter Amerika Serikat dan perkembangan ekonomi dunia. Selama ketidakpastian global masih tinggi, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tertekan.

Namun, dengan fundamental ekonomi yang relatif solid dan respons kebijakan yang tepat, tekanan terhadap rupiah diharapkan dapat dikelola dengan baik. Pelaku pasar pun diimbau untuk tetap mencermati perkembangan global dan domestik sebelum mengambil keputusan investasi.

Leave a Reply