
Pengalaman Amerika Serikat dalam mengeksploitasi sumber daya energi di luar negeri sudah berlangsung puluhan tahun, dari Irak hingga kini Venezuela. Rencana Washington untuk menghidupkan kembali peran perusahaan migas AS di Venezuela
membuka kembali diskusi tentang pelajaran berharga dari keterlibatan serupa sebelumnya — khususnya di Irak setelah
invasi pada 2003. Sebagaimana pengalaman pahit industri migas AS dalam konteks perang Irak, Venezuela memperlihatkan
tantangan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar mengambil minyak mentah.
Sejarah Hubungan Energi AS–Venezuela
Venezuela ini memiliki cadangan minyak yang terbesar di dunia, mencapai sekitar 17–19% dari total cadangan global,
dengan kurang-lebih dari 300 miliar barel minyak mentah. Cadangan ini melampaui negara-negara seperti Arab Saudi dan
Irak, menjadikannya magnet investasi selama hampir satu abad.
Sejak awal abad ke-20, perusahaan-perusahaan besar AS seperti Standard Oil (yang kemudian menjadi ExxonMobil), Gulf Oil,
dan Creole Petroleum Corporation memainkan peran penting dalam pengembangan sektor migas Venezuela. Sampai era 1970-an,
hubungan ini relatif stabil dan saling menguntungkan. Namun, nasionalisasi industri oleh pemerintah Venezuela pada pertengahan
dekade 1970 memaksa perusahaan-perusahaan AS keluar dari kepemilikan langsung aset di negara itu.
Pelajaran dari Irak: Kenyataan di Lapangan Tidak Sesederhana Rencana
Presiden AS Donald Trump pernah mengilustrasikan rencananya di Venezuela dengan narasi sederhana: masuk, ambil minyak,
lalu ekspor. Pernyataan ini mencerminkan optimisme tentang kemampuan AS menguasai dan memanfaatkan cadangan migas
Venezuela. Namun, pengalaman di Irak — di mana AS terlibat dalam perang panjang yang menyulitkan stabilitas dan
pembangunan sektor migas — menjadi peringatan keras bahwa realitas jauh lebih rumit.
Invasi AS ke Irak pada 2003 menunjukkan bahwa meskipun suatu negara kaya energi, persoalan keamanan, politik lokal,
infrastruktur yang rusak, dan resistensi sosial bisa secara drastis memperlambat atau bahkan menggagalkan target-target
ekonomi. Pemerintah AS menghabiskan lebih dari satu triliun dolar dan menghadapi perlawanan berkepanjangan, sementara
industri migas berjuang untuk memulihkan produksi di tengah ketidakstabilan.
Tantangan Venezuela: Politik, Infrastruktur, dan Sanksi
Situasi di Venezuela juga sarat dengan risiko. Infrastruktur migas negara ini telah mengalami kerusakan akibat mismanajemen
bertahun-tahun, kekurangan investasi, dan sanksi internasional yang ketat. Produksi minyak saat ini jauh lebih rendah
dibandingkan puncaknya pada tahun 1990-an.
Selain itu, perubahan rezim dan intervensi militer AS belakangan ini telah menambah kompleksitas politik lokal. Sanksi dan
blokade yang dilakukan oleh Washington telah membuat sejumlah kapal tangki berhenti atau kembali ke pelabuhan, menimbulkan
akumulasi minyak dan kerugian bagi PDVSA — perusahaan minyak milik negara Venezuela.
Peluang dan Risiko untuk Industri Migas AS
Meski demikian, ada potensi peluang bagi perusahaan migas AS. Langkah reformasi hukum migas baru yang tengah
dibahas di Venezuela memungkinkan masuknya investasi asing dengan persyaratan yang lebih fleksibel. Rencana ini
membuka pintu bagi perusahaan-perusahaan global termasuk Chevron, Repsol, dan BP untuk kembali beroperasi di pasar
Venezuela di bawah rezim yang berbeda.
Namun kepastian hukum Tuna55, stabilitas politik, dan jaminan investasi tetap menjadi prasyarat penting sebelum perusahaan-perusahaan
besar siap kembali berkomitmen dalam jangka panjang.
Kesimpulan: Menimbang Harapan dan Kenyataan
Belajar dari pengalaman AS di Irak, keterlibatan di Venezuela tidak bisa hanya dilihat sebagai proyek ekonomi sederhana.
Tantangan struktural, dinamika politik domestik, dan dampak geopolitik menjadikan sektor migas Venezuela sebuah teka-teki
besar yang memerlukan strategi matang. Kehati-hatian dan perencanaan jangka panjang yang realistis menjadi pelajaran utama
yang perlu diingat oleh industri migas AS sebelum kembali menancapkan jejaknya di negeri penuh potensi ini.