
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada akhir Januari 2026 membuat pernyataan mengejutkan tentang pergeseran arah impor
minyak India. Trump mengatakan bahwa India akan mulai membeli minyak dari Venezuela sebagai bagian dari strategi energi global
yang lebih besar. Pernyataan ini menarik perhatian dunia karena melibatkan tiga kekuatan ekonomi besar — Amerika Serikat, India,
dan Venezuela — dalam dinamika geopolitik energi yang kompleks di tengah ketegangan global saat ini.
Pernyataan Donald Trump di Atas Air Force One
Trump mengungkapkan klaimnya kepada wartawan saat berada di pesawat kepresidenan Air Force One ketika menuju Florida.
Menurutnya, India akan membeli minyak Venezuela “sebagai pengganti minyak dari Iran,” dan bahwa konsep kesepakatan dengan
New Delhi telah dibuat. Trump juga menyatakan bahwa China dipersilakan untuk ikut serta dalam kesepakatan minyak tersebut.
Ucapan ini dipandang sebagai bagian dari upaya AS untuk membentuk ulang peta perdagangan energi global dan mengurangi
ketergantungan negara-negara besar pada pasokan minyak tertentu, terutama dari Rusia dan Iran.
Latar Belakang Pasokan Energi India
India adalah salah satu negara importir minyak terbesar di dunia. Sebelumnya, New Delhi banyak mengimpor minyak dari Rusia
karena harga yang lebih kompetitif setelah negara-negara Barat memberlakukan sanksi terhadap Moskow atas konflik di Ukraina.
India juga sebelumnya membeli minyak dari Iran, namun berhenti melakukannya sejak pemberlakuan sanksi AS atas program nuklir Iran.
Dengan semakin menurunnya impor minyak dari Iran dan Rusia, arah baru dalam pasokan minyak menjadi penting bagi keamanan
energi India. Minyak Venezuela dikenal sebagai jenis crude berat yang sering dijual dengan harga diskon, memberikan peluang
bagi kilang-kilang pengolahan di India untuk mendapatkan margin keuntungan lebih tinggi jika dapat diproses secara efisien.
Dampak Kebijakan AS terhadap Perdagangan Minyak
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintahan Trump menerapkan berbagai kebijakan tarif dan sanksi untuk mempengaruhi aliran
minyak global. Pada Maret 2025, Trump memberlakukan tarif 25% atas barang dari negara-negara yang membeli minyak Venezuela,
termasuk India. Kemudian tarif impor atas barang India juga meningkat hingga 50% dalam upaya menekan New Delhi untuk
mengurangi pembelian minyak Rusia.
Namun, setelah hubungan AS-India sempat tegang akibat masalah ini, beberapa sanksi terhadap industri minyak Venezuela telah
dilonggarkan untuk memfasilitasi perdagangan Tuna55 yang lebih luas dan memungkinkan perdagangan minyak mentah dari Venezuela
ke pasar internasional.
Reaksi India dan Dunia
Meskipun Trump mengklaim adanya “konsep kesepakatan” dengan India terkait pembelian minyak Venezuela, hingga kini belum
ada konfirmasi resmi dari pemerintah India maupun Venezuela tentang kesepakatan tersebut. Beberapa media internasional
mencatat pernyataan Trump masih bersifat unilateral dan belum dikonfirmasi secara independen oleh New Delhi atau Caracas.
Selain itu, klaim ini juga mencerminkan bagaimana isu energi kini dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global, dengan negara-negara
besar saling memanfaatkan kebijakan ekonomi dan diplomasi untuk memperoleh keuntungan strategis. Perubahan arah perdagangan
minyak seperti ini bisa membawa implikasi besar bagi pasar energi dunia, terutama jika benar-benar terealisasi.
Pernyataan Trump bahwa India akan membeli minyak dari Venezuela bukan hanya mencerminkan perubahan dalam perdagangan
energi global, tetapi juga strategi geopolitik yang lebih luas. Meski klaim ini masih belum dikonfirmasi secara langsung oleh pihak
India atau Venezuela, tekanannya menunjukkan bagaimana kebijakan AS berupaya membentuk aliansi energi baru di tengah
ketidakpastian geopolitik saat ini. Perkembangan lebih lanjut akan sangat menentukan arah hubungan energi dan ekonomi antara
Amerika Serikat, India, Venezuela, serta kekuatan global lainnya.