
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkap sejumlah faktor utama yang menyebabkan terjadinya kebocoran data di Indonesia. Isu keamanan digital kembali menjadi perhatian publik seiring meningkatnya kasus pelanggaran data yang berdampak langsung pada institusi, perusahaan, hingga masyarakat luas. Menurut Komdigi, kebocoran data bukan hanya disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari aspek teknis, sumber daya manusia, dan tata kelola sistem digital.
Salah satu faktor utama kebocoran data adalah lemahnya sistem keamanan siber. Banyak organisasi masih menggunakan infrastruktur teknologi yang belum diperbarui secara berkala, sehingga rentan terhadap celah keamanan. Sistem yang tidak mendapatkan pembaruan keamanan secara rutin lebih mudah disusupi oleh pihak tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan kelemahan tersebut.
Selain itu, faktor sumber daya manusia juga menjadi penyebab dominan. Kurangnya kesadaran akan pentingnya keamanan data membuat praktik digital yang tidak aman masih sering terjadi. Penggunaan kata sandi yang lemah, akses sistem yang tidak dibatasi dengan baik, serta kelalaian dalam menangani data sensitif menjadi pintu masuk utama terjadinya kebocoran data. Komdigi menilai bahwa kesalahan manusia masih menjadi titik terlemah dalam sistem keamanan digital.
Faktor berikutnya adalah tata kelola data yang belum optimal. Banyak lembaga dan perusahaan belum memiliki standar pengelolaan data yang jelas dan terstruktur. Data sering disimpan tanpa klasifikasi tingkat sensitivitas, sehingga semua informasi diperlakukan dengan tingkat perlindungan yang sama. Kondisi ini meningkatkan risiko kebocoran, terutama untuk data pribadi dan data strategis.
Pengelolaan Sistem Komdigi
Komdigi juga menyoroti penggunaan pihak ketiga dalam pengelolaan sistem digital. Kerja sama dengan vendor atau penyedia layanan teknologi yang tidak menerapkan standar keamanan tinggi dapat membuka celah baru. Ketergantungan pada sistem eksternal tanpa pengawasan ketat berpotensi memperbesar risiko kebocoran data, terutama jika tidak disertai audit keamanan secara berkala.
Dari sisi teknologi, meningkatnya serangan siber dengan metode yang semakin kompleks turut menjadi tantangan besar tuna55. Teknik peretasan berkembang seiring kemajuan teknologi, sementara kesiapan sistem keamanan di banyak institusi belum sepenuhnya mampu mengimbangi perkembangan tersebut. Hal ini membuat sistem digital menjadi target empuk bagi kejahatan siber.
Komdigi menegaskan bahwa kebocoran data memiliki dampak luas, mulai dari kerugian ekonomi, rusaknya reputasi lembaga, hingga hilangnya kepercayaan publik. Data pribadi yang bocor dapat disalahgunakan untuk berbagai tindak kejahatan, sehingga perlindungan data menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau pengelola sistem.
Ke depan, Komdigi mendorong penguatan keamanan siber melalui peningkatan standar teknologi, edukasi sumber daya manusia, serta penerapan tata kelola data yang lebih ketat. Kesadaran akan pentingnya keamanan digital dinilai menjadi kunci utama untuk mencegah kebocoran data di era transformasi digital yang semakin masif.
Dengan mengungkap faktor-faktor penyebab kebocoran data, Komdigi berharap seluruh pemangku kepentingan dapat mengambil langkah preventif yang lebih serius. Keamanan data bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendasar untuk menjaga kepercayaan dan stabilitas ekosistem digital nasional.